Tanpa daftar, tanpa email.
Malam PertamaAku Sudah Memberi Semuanya
Malam Pertama
Aku Sudah Memberi Semuanya
"Yah, aku kasih dia semuanya. Kenapa dia tetap pergi?"
Rafa tiba di rumah menjelang magrib dengan satu tas ransel dan wajah yang kelihatan belum tidur tiga hari. Ibu memeluknya lama di depan pintu, tidak bertanya apa-apa, lalu langsung ke dapur menghangatkan sayur asem.
Selesai makan, Ayah menyeduh dua gelas kopi tubruk dan membawanya ke teras. Lampu kuning di atas pintu menyala redup. Jangkrik sudah mulai bersahut-sahutan. Ayah duduk di kursi rotan yang catnya sudah mengelupas, lalu menepuk kursi di sebelahnya.
Rafa duduk. Lama ia hanya memandangi kopinya.
*
Ayah Nadia?
Rafa Iya, Yah. Udah selesai.
Ayah Siapa yang selesaikan?
Rafa Dia. Katanya butuh ruang. Katanya aku bukan aku yang dulu.
Ayah Hmm.
Rafa Padahal aku udah kasih semuanya, Yah. Waktu, perhatian, gaji juga sering kepakai buat dia. Aku berhenti futsal karena dia nggak suka aku pulang malam. Aku tolak tawaran pindah divisi karena takut jadi sibuk. Aku selalu ada. Selalu.
Ayah Kamu selalu ada buat dia. Terus, buat dirimu sendiri, kamu ada berapa kali?
Rafa Maksudnya?
Ayah Waktu kamu berhenti futsal, berhenti ketemu teman, menolak kesempatan kerja, itu semua bukan buat Nadia, Nak. Itu kamu menghapus dirimu sedikit demi sedikit.
Rafa Tapi itu kan pengorbanan. Cinta kan memang berkorban.
Ayah Berkorban itu memberi sesuatu dari dirimu. Yang kamu lakukan itu memberi dirimu sampai habis.
Rafa Bedanya apa, Yah?
Ayah Yang pertama, kamu masih ada setelah memberi. Yang kedua, nggak ada lagi yang tersisa untuk dicintai.
Catatan Ayah
Perempuan yang Jatuh Cinta, Pria yang Menghilang
Coba ingat lagi, Nak, kenapa Nadia dulu tertarik padamu. Bukan karena kamu selalu membalas chat dalam satu menit. Bukan karena kamu rela membatalkan semua rencanamu untuknya.
Dulu kamu pria yang sibuk dengan hidupnya. Kamu punya teman, punya hobi, punya cerita tentang pekerjaanmu. Kamu tertawa lepas kalau menang futsal dan menggerutu kalau kalah. Kamu punya dunia, dan dia diundang masuk ke dalamnya.
Lalu pelan-pelan dunia itu kamu bongkar sendiri. Satu kegiatan dihapus karena dia tidak suka. Satu teman dijauhi karena dia cemburu. Satu kesempatan ditolak karena takut hubungan terganggu. Kamu pikir itu bukti cinta. Tapi dari sisi Nadia, yang terlihat adalah pria yang dulu ia kagumi perlahan mengecil.
Banyak orang tidak pergi karena dicintai terlalu banyak. Mereka pergi karena tidak bisa lagi menemukan orang yang dulu mereka cintai.
Tiga Tanda Kamu Mulai Menghilang
Ayah tidak menyalahkanmu. Hampir semua lelaki pernah begini, apalagi saat jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan serius. Tapi kamu perlu mengenali tandanya:
- Hal-hal yang dulu membuatmu hidup mulai berhenti. Olahraga, hobi, belajar, teman. Bukan karena kamu bosan, tapi karena kamu merasa itu mengganggu hubungan.
- Suasana hatimu sepenuhnya ditentukan oleh balasan chat. Kalau dia hangat, harimu cerah. Kalau dia dingin, kamu hancur seharian.
- Kamu takut menjadi dirimu sendiri di depannya. Kamu menahan pendapat, menahan rasa tidak suka, menahan permintaan, karena takut dia pergi.
Kalau tiga hal itu terjadi, yang sedang tumbuh bukan cinta. Yang sedang tumbuh adalah rasa takut kehilangan.