Sebuah buku dari teras rumah

Jangan hilang
saat mencintai.

Rafa ditinggalkan setelah memberi semuanya. Ia pulang, lalu duduk dua belas malam di teras bersama Ayah. Ini catatan obrolan mereka.

Sampul Jangan Hilang Saat Mencintai
125 halaman · 12 malam

“Aku butuh ruang.
Kamu bukan kamu yang dulu.”

kata Nadia, sebelum pergi.

Mungkin kamu pernah mendengar kalimat yang mirip.

Buku ini untukmu, kalau kamu pernah…

  1. 1berhenti main futsal karena dia tidak suka kamu pulang malam.
  2. 2menunggu satu balasan chat seharian, lalu hancur karena isinya cuma “ok”.
  3. 3dicap “terlalu baik”, tapi tetap tidak dipilih.
  4. 4mulai suka seseorang yang baru, dan takut mengulang kesalahan yang sama.

Tidak ada trik balas chat biar terlihat mahal. Tidak ada cara bikin mantan menyesal. Tidak ada tarik ulur. Ayah di buku ini tidak menyalahkan perempuan. Ia cuma ingin anaknya pulang ke dirinya sendiri.

Dua belas malam.
Bulan yang pelan-pelan penuh.

  1. Malam 1Aku Sudah Memberi SemuanyaKenapa dia pergi justru saat kamu memberi segalanya.
  2. Malam 2Ikut Perjalanan, Bukan Jadi PerjalananArah hidup, dan kenapa itu bukan soal kaya.
  3. Malam 3Memberi dari Penuh, Bukan dari TakutHadiah yang diam-diam ada tagihannya.
  4. Malam 4Menjadi Utuh Sebelum BerduaBahagia yang cuma punya satu colokan.
  5. Malam 5Hidup yang Kamu Bangun SendiriRitme dulu, arah nanti ikut.
  6. Malam 6Tenang Itu KekuatanDia lihat story, tapi tidak membalas chat.
  7. Malam 7Pelan-Pelan, NakAda perempuan baru di klub lari.
  8. Malam 8Berani Bilang TidakBatasan itu pagar, bukan tembok.
  9. Malam 9Saat Dia Ragu atau Ngambek“Sabtu aku capek deh.” Kamu jawab apa?
  10. Malam 10Ketika Dia KembaliPesan jam sebelas malam: “Aku kangen.”
  11. Malam 11Menjadi RumahMalam ketika Ibu ikut duduk di teras.
  12. Malam 12Pria yang Tak TergantikanMalam terakhir, bulan purnama.

Setiap malam berisi obrolan di teras, catatan Ayah, kisah Ayah waktu muda, latihan untuk minggu itu, dan halaman untuk menulis jawabanmu sendiri.

Duduk sebentar.
Malam pertama boleh dibaca di sini.

Tanpa daftar, tanpa email.

Malam PertamaAku Sudah Memberi Semuanya

Malam Pertama

Aku Sudah Memberi Semuanya

"Yah, aku kasih dia semuanya. Kenapa dia tetap pergi?"

Rafa tiba di rumah menjelang magrib dengan satu tas ransel dan wajah yang kelihatan belum tidur tiga hari. Ibu memeluknya lama di depan pintu, tidak bertanya apa-apa, lalu langsung ke dapur menghangatkan sayur asem.

Selesai makan, Ayah menyeduh dua gelas kopi tubruk dan membawanya ke teras. Lampu kuning di atas pintu menyala redup. Jangkrik sudah mulai bersahut-sahutan. Ayah duduk di kursi rotan yang catnya sudah mengelupas, lalu menepuk kursi di sebelahnya.

Rafa duduk. Lama ia hanya memandangi kopinya.

Ayah Nadia?

Rafa Iya, Yah. Udah selesai.

Ayah Siapa yang selesaikan?

Rafa Dia. Katanya butuh ruang. Katanya aku bukan aku yang dulu.

Ayah Hmm.

Rafa Padahal aku udah kasih semuanya, Yah. Waktu, perhatian, gaji juga sering kepakai buat dia. Aku berhenti futsal karena dia nggak suka aku pulang malam. Aku tolak tawaran pindah divisi karena takut jadi sibuk. Aku selalu ada. Selalu.

Ayah Kamu selalu ada buat dia. Terus, buat dirimu sendiri, kamu ada berapa kali?

Rafa Maksudnya?

Ayah Waktu kamu berhenti futsal, berhenti ketemu teman, menolak kesempatan kerja, itu semua bukan buat Nadia, Nak. Itu kamu menghapus dirimu sedikit demi sedikit.

Rafa Tapi itu kan pengorbanan. Cinta kan memang berkorban.

Ayah Berkorban itu memberi sesuatu dari dirimu. Yang kamu lakukan itu memberi dirimu sampai habis.

Rafa Bedanya apa, Yah?

Ayah Yang pertama, kamu masih ada setelah memberi. Yang kedua, nggak ada lagi yang tersisa untuk dicintai.

Catatan Ayah

Perempuan yang Jatuh Cinta, Pria yang Menghilang

Coba ingat lagi, Nak, kenapa Nadia dulu tertarik padamu. Bukan karena kamu selalu membalas chat dalam satu menit. Bukan karena kamu rela membatalkan semua rencanamu untuknya.

Dulu kamu pria yang sibuk dengan hidupnya. Kamu punya teman, punya hobi, punya cerita tentang pekerjaanmu. Kamu tertawa lepas kalau menang futsal dan menggerutu kalau kalah. Kamu punya dunia, dan dia diundang masuk ke dalamnya.

Lalu pelan-pelan dunia itu kamu bongkar sendiri. Satu kegiatan dihapus karena dia tidak suka. Satu teman dijauhi karena dia cemburu. Satu kesempatan ditolak karena takut hubungan terganggu. Kamu pikir itu bukti cinta. Tapi dari sisi Nadia, yang terlihat adalah pria yang dulu ia kagumi perlahan mengecil.

Banyak orang tidak pergi karena dicintai terlalu banyak. Mereka pergi karena tidak bisa lagi menemukan orang yang dulu mereka cintai.

Tiga Tanda Kamu Mulai Menghilang

Ayah tidak menyalahkanmu. Hampir semua lelaki pernah begini, apalagi saat jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan serius. Tapi kamu perlu mengenali tandanya:

  • Hal-hal yang dulu membuatmu hidup mulai berhenti. Olahraga, hobi, belajar, teman. Bukan karena kamu bosan, tapi karena kamu merasa itu mengganggu hubungan.
  • Suasana hatimu sepenuhnya ditentukan oleh balasan chat. Kalau dia hangat, harimu cerah. Kalau dia dingin, kamu hancur seharian.
  • Kamu takut menjadi dirimu sendiri di depannya. Kamu menahan pendapat, menahan rasa tidak suka, menahan permintaan, karena takut dia pergi.

Kalau tiga hal itu terjadi, yang sedang tumbuh bukan cinta. Yang sedang tumbuh adalah rasa takut kehilangan.

Halaman berikutnya masih ada: Rasa Takut yang Menyamar Jadi Perhatian, Bukan Salahnya, Bukan Juga Sepenuhnya Salahmu, lalu kisah Ayah waktu muda (Gadis Bernama Mita), latihan untuk minggu ini, dan halaman untuk menulis jawabanmu sendiri.

Unduh Malam Pertama (PDF, gratis)atau langsung baca kedua belas malamnya

Seperti apa di dalamnya

Jangan Hilang Saat Mencintai

e-book PDF · 125 halaman · 12 malam

  • Obrolan, catatan, kisah, dan latihan di tiap malam
  • Halaman isian “Tulis di Sini”
  • Jurnal 30 Hari & 30 Kalimat Pegangan
  • Surat Ayah untuk Rafa
Rp49.000Rp99.000

harga perkenalan untuk 100 pembeli pertama

Dapatkan bukunya

Belum yakin? Unduh malam pertama dulu.

Yang biasanya ditanyakan

Ini buku cara mendapatkan perempuan?

Bukan. Ini tentang menjadi lelaki yang utuh: punya arah, tenang, punya batas, dan bisa mencintai tanpa kehilangan diri.

Saya baru putus. Cocok?

Ceritanya justru dimulai dari situ. Kalau rasanya terlalu berat, bicaralah juga dengan orang yang kamu percaya.

Saya sedang PDKT, atau sudah punya pasangan.

Malam ketujuh sampai kesebelas membahas mengenal seseorang pelan-pelan, batasan, pasangan yang ngambek, dan memimpin dengan hangat.

Bentuknya apa?

PDF ukuran A5, nyaman di layar HP. Halaman isiannya bisa dicetak.

Kalau suatu hari kamu merasa kehilangan jalan, pulanglah. Kursi rotan itu tidak akan Ayah buang, meskipun catnya sudah mengelupas semua.

— Ayah